Kesadaran Kita Akan Jumlah

domba2

Empat ribu kambing bukanlah jumlah yang sedikit. Itu sangat banyak, besar dan melimpah. Apalagi bagi keluarga miskin seperi Auf Al Asyja’i. Di hari-hari awal islam yang penuh tekanan, permusuhan dan perampasan, Auf bin Malik kehilangan anaknya, karena disandera orang orang Musyrik Quraisy. Lelaki itu hanya bisa mengadu kepada Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, anakku disandera, dan istriku sangat tertekan. Apa yang engkau perintahkan untukku,” kata Auf mengadu kepada Rasulullah.

“Bertakwalah kepada Allah, bersabarlah, dan perbanyak mengucapkan Laa haula walaa quwwata illa billaah,” jawab Rasul. Maka lelaki itu pun menjalankan perintah itu, mengajak istrinya melakukan juga. Tak lama, penyandera itu lengah. Dan anak Auf melenggang pulang salmbil menggiring pulang kambing-kambing milik orang kafir Quraisy itu, sebanyak empat ribu ekor. Maka Turunlah ayat terkait dengan itu, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscara Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang disangka-sangkanya.”

Setiap kita perlu kuantitas sebagaimana kita perlu akan kualitas. Kita membutuhkan Jumlah, sebagaimana kita menghajatkan mutu. Antara apa yang bias dihitung dengan angka, dengan apa yang tidak bisa dihitung, bahkan dengan penjumlahan, keduanya sama pentingnya. Ini berlaku untuk berbagai hal dalam hidup kita.

Sesungguhnya, prinsip adanya jumlah, dalam Islam sangat dominan. Prinsip kelimpahan, jumlah yang besar, bahkan tak terbatas, merupakan salah satu pilar penting kehidupan, yang dibangun atas dasar iman. Ini tidak bertentangan dengan ajaran untuk sabar, zuhud ataupun larangan berlebih-lebihan. Itu dua hal yang sangat jauh berbeda.

Kesadaran akan jumlah yang sangat melimpah, merupakan bagian penting dari keimanan. Itu dimulai dari pengertian tentang berapa banyak dan tak terbatasnya karunia Allah. Betapa sanagt banyak ayat-ayat yang menggugah hati, mengasah pikiran dengan bahasa yang sangat tajam, menjelaskan adanya jumlah  yang sangat-sangat besar  dari nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Disalah satu kesempatan, bahkan kita ditantang dengan sangat keras, berulang-ulang, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kalian dustakan?” dalam kesempatan lain Allah menegaskan “ Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Salah satu spririt dari iman itu sendiri adalah menciptakan keberlimpahan. Perhatikan misalnya janji Allah dalam kisah Auf Al Asyja’i diatas, seorang ulama bernama Al Qahthani menjelaskan maksud ayat “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscara Allah akan mencukupkan (keperluan)nya, adalah bahwa Allah menjamin dan memenuhi hambanya yang bertawakkal tersebut, dari apa yang dikeluhkannya dari urusan agama dan dunia.

Perasaan cukup itu sendiri pasti memasuki angka tertentu dari jumlah matematis yang rasional. Itu sebabnya, keterbatasan yang sudah ekstrim, yang mengancam kematian, misalnya, membuka jalan diperbolehkannya memakan yang haram. Itu batas minimal dari rasionalitas matematis, untuk memeastikan hidup masih tersambung. Karenanya, kosakata yang menjelaskan jumlah yang banyak, besar, seharusnya hadir didalam kesadaran kita. Itu bukan aib. Kosakata tentang keberlimpahan ini adalah kosakata tentang keimanan.

Wallahu a’lam bisshowab.

Ditulis ulang dari Tarbawi, Februari 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s