Antara Sebutir Kurma dan Kaki Kambing

 KurmaMasih terngiang-ngiang diingatan kajian tentang makna kesyukuran dan ikhlas yang sebenarnya. Sang Ustadz menyampaikan kepada kami tentang mengapa dan bagaimana Tingkat Amal Shalih para sahabat di masa Rasulullah salallahu’alaiyhi wasallam sangat tinggi nilai ganjarannya dimata Allah.

Dijelaskan dalam sebuah sirah mengenai amal yang benar-benar sempurna, Aisyah radiyallahu’anha suatu ketika didatangi oleh seorang fakir di kediamannya untuk meminta makanan, namun ternyata tidak didapatinya makanan apapun dirumahnya melainkan hanya sebutir Kurma, Subhanallah. Kurma itupun akhirnya diberikan Aisyah sebagai bentuk rasa Syukur atas nikmat Allah Ta’ala, bahwa masih ada dilingkungnnya yang lebih membutuhkan daripadanya. Sekarang coba kita bandingkan dengan kita, seandainya di rumah kita makanan yang tersisa hanya sebuah badak (bakwan), tiba-tiba ada seorang peminta-minta atau bahkan tetangga kita sendiri, kemudian meminta belas kasihan kepada kita untuk memberikan makanan, bisa jadi yang terbersit dipikiran kita adalah, (waduh) ngapunten, mboten enten nopo-nopo niki bu, atau bisa jadi kita males dan ewuh pekewuh ngasih karena Cuma sekedar satu buah badak, atau bisa jadi kita berfikir, diri sendiri aja kekurangan, mung kari siji iki (tinggal adanya satu ini), ko mau dikasihkan tetangga. Mendingan tak pangan dhewek (Mending dimakan sendiri saja).

Inilah potret kita saat ini, sangat jauh berbeda dengan generasi terbaik yang dijamin Allah Ta’ala masuk surga. Perbedaanya teramat jauh hingga Allah kemudian menurunkan Surat Al Qodr sebagai berita gembira bagi umat akhir zaman (yakni dengan menggapai Laylatul Qodr). Keikhlasan hati, kejernihan pikiran dan ketulusan inilah yang menyebabkan amalan para sahabat di generasi Rasulullah dan sesudahnya menjadi amalan terbaik dengan ganjaran yang sangat tinggi di mata Allah Ta’ala.

Suatu ketika Istri Rasulullah (lupa namanya) akan berniat menghidangkan kambing kesukaan Rasulullah, dengan segala upaya sungguh-sungguh akhirnya dibuatlah makanan dari kambing, *kalau di kita bisa berupa Gule, Tengkleng, Sate, Tong seng dan lain-lain. Eh, ternyata banyak kaum fakir yang datang kerumah Istri Rasulullah tersebut dan sebagian diantara mereka meminta sedekah makanan, sekali lagi karena Hasil didikan dan ke tawadhu-an istri Rasulullah, maka satu demi satu kaum fakir diberinya masakan kambing, banyak sampai-sampai hanya menyisakan satu buah kaki kambing (kikil).

Apa yang Rasulullah katakan ketika disuguhkan sebuah kaki kambing, “Wahai istriku, kenapa tidak engkau berikan seluruhnya saja bagianku ini, sekiranya masih banyak yang membutuhkan diantara kaum yang fakir tersebut”. Subhanallah, kit akembali lagi disuguhi dengan Ahlak yang luar biasa, itulah Ahlak Baginda Rasulullah salallahu’alaiyhi wasallam.

Satu yang menggelitik dari kajian malam itu, ketika kita bandingkan dengan kondisi kita saat ini. Seorang suami diberitahu oleh istrinya bahwa dirinya memasak makanan special karena hari ulang nikahnya, singkat cerita si istri memesan seekor kambing untuk kemudian dia masak sendiri dengan berbagai jensi makanan olahan kambing, dari sate sampai sup kikil kambing. Si Suami dengan riang hati yang sudah dikabari sebelumnya sangat bersuka cita, karena sepulang dari kerja nanti akan mendapatkan hidangan istimewa, tengkleng kambing, sate kambing dll…

Tengkleng

Namun ternyata sang istri sebelumnya sudah memberitahukan kepada family, keluarga besar dll, akhirnya semobil penuh avanza datang,  menyatap semua yang ada, sang istri hanya gelisah dalam hati, mau nyisihkan eh ternyata udah kadung diserbu, ya akhirnya si istri pasrah. Singkat cerita sang suami hanya mendapatkan sisa Sebuah Kikil dengan sedikit kuah…

Melihat hal ini sang suami lantas berkomentar (isinya hampir sama seperti apa yang disampaikan di kisah sebelumnya,  namun beda intonasi dan Tinggi nadanya), ” Dasar Istri Ngga Nggenah!!! Kenapa ngga sekalian dikasihkan semua saja !!!  suamine kesel gini cuma dikasih kikil!!!… Si Istri hanya bisa tertegun, memendam sedih karena kemarahan suaminya…

Itulah potret kita saat ini, semoga bisa menjadi renungan akan makna ikhlas, sabar dan Syukur…

Wallahua’lam bishshowwab….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s