Tugas Ini Tidak Mudah

Pernahkah anda mengalami saat dimana kita dipercayakan oleh segenap warga untuk membangun Sebuah Komunitas yang memiliki banyak keinginan, cita-cita, lebih spesifiknya lagi adalah ‘kepentingan”. Satu kepentingan yang dimiliki oleh seseorang berbeda dengan yang lainnya, sudah pasti hal ini akan  menyebabkan beda persepsi, berkelompok/nge-gaps dan yang lebih parah bakal ada dualism kepemimpinan, satu diakui satu yang lain tidak, saling mengaku yang akhirnya fungsi dan sistem dari penggerak komunitas tersendat bahkan berhenti berputar layaknya mobil mogok, tidak dapat maju maupun mundur, aka berhenti ditempat.

Dalam kondisi kita sedang diberikan amanah oleh warga, lebih jauh lagi- sebenarnya amanah ini dari Sang Pencipta kita yakni Alloh ‘Azza wa Jalla, maka amanah sekecil apapun bentuknya kita mesti bisa menjalankan dengan sebaik-baiknya. Kecil yang bagaimana? Amanah kita sebagai seorang laki-laki, suami dari seorang istri, abi/ayah/bapak bagi seorang anak, maka inilah yang menjadi landasan awal apakah seseorang dapat mengemban amanah kepemimpinan/leadership dimulai dari yang terkecil yakni menjadi pemimpin bagi rumah tangga kita. Jikalau untuk mengurus rumah tangga saja belum beres, mengelola urusan istri, anak, mengontrol keuangan, pemasukan maupun pengeluaran, mengarahkan mendidik, memberikan ilmu terhadap anak dan istri, jika ini semua belum bisa direalisasasikan, maka bagaimana kemudian segenap warga akan memberikan amanah kepada diri kita? Amanah tidak datang dengan diminta, namun amanah akan datang seiring dengan kepercayaan manusia akan kapasitas diri kita, kualitas interpersonal yang baik akan menciptakan kenyamanan, ketenangan dan rasa saling percaya bahwa kita mampu untuk menjadi pemimpin.

Dari hal-hal yang selama ini penulis dapatkan, banyak sekali tipikal dan sifat manusia yang saya yakin semua ini akan ada dimanapun kita tinggal, jika kita merasakan hal ini, maka sudah menjadi tugas bagi kita bersama untuk mengarahkan sebaik mungkin, menjadi penengah serta mementukan keputusan atas kepentingan bersama supaya tidak terjadi konflik didalam lingkungan tempat tinggal kita. Tegas itu perlu,  namun tegas juga tidak selalu diartikan dengan keras, jadi, marilah kita menjadi pribadi yang selalu berbuat baik dari hati semaksimal apa yang kita mampu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s