Rahasia Bungker di Kutub Utara

Dalam sebuah kesempatan, saya bertatap muka dengan seorang peneliti lingkungan asal Indonesia. Sang peneliti ini punya kiprah yang luar biasa di bidang lingkungan, perubahan iklim, maupun kemaritiman. Atas penelitiannya terhadap lingkungan, teman yang saya enggan menyebut namanya ini pernah diundang menghadiri suatu acara di Kutub Utara. Dia bahkan sudah dua kali mendatangi wilayah yang suhu terpanasnya saja mencapai 10 derajat Celsius itu. Di bagian Kutub Utara yang masuk dalam wilayah Norwegia, peneliti tersebut tercengang menyaksikan fasilitas milik Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Bunker

ilustration of bunker, bloomberg.com

Bu kan saja karena letak lokasinya yang berada di daerah penuh es, tetapi lantaran pula di daerah yang sulit dihuni manusia karena temperaturnya yang superdingin itu terdapat fasilitas yang sangat kompleks. Di sana, ungkap peneliti ini, terhampar kompleks bangunan seluas sekitar 2.000 hektare. Namun, kompleks bangunan itu tidak muncul seluruhnya di atas permukaan tanah, melainkan sebagian besarnya berada di bawah perut bumi. Bahkan, kompleks ini ada yang berada di bagian perut bukit.

Di dalam tanah itu, kompleks tersebut bertingkat-tingkat. “Persis seperti kota mandiri di tengah padang es,” kata si peneliti tersebut. Menurut pria yang kini menginjak usia 47 tahun ini, staf yang bertugas di kompleks bangunan milik NATO itu bergantian secara reguler. Mereka berasal dari berbagai negara. Hebatnya, di dalam kompleks tersebut bisa memantau pergerakan, misalnya, pesawat udara maupun kapal laut, katakan, yang ada di wilayah Indonesia.

Dengan segala kelengkapannya, kompleks bangunan di bawah perut bumi itu lebih tepat jika disebut bungker atau bangunan yang menjadi bagian dari sistem pertahanan. Menurut pria yang pernah menempuh pendidikan di sejumlah perguruan tinggi di Eropa maupun Asia Timur ini, kompleks tersebut bisa menjadi tempat paling aman dari ancaman kehancuran peradaban maupun lingkungan.

Dia lantas mencontohkan bagaimana jadinya jika perang nuklir terjadi. Apalagi, sejumlah negara yang memiliki kekuatan nuklir berada di wilayah tropis dan subtropis. Sebut saja India, Pakistan, maupun Korea Utara. Negara-negara yang terletak relatif dekat dengan Indonesia. Bila perang nuklir meletus, yang terjadi adalah kehan- curan peradaban dan lingkungan. Belum lagi faktor perubahan iklim yang berawal dari pemanasan global. Beragam penelitian ilmiah menyebutkan, pemanasan global akan memicu mencairnya gunung maupun benua es yang ada di Kutub Utara dan Kutub Se latan. Apa yang terjadi kemudian? Sejumlah kota di pesisir pantai pun jadi tenggelam, termasuk negara-negara di Kepulauan Pasifik.

Laman Global Research menuliskan, para pemimpin militer negara-negara kuat telah menyiapkan antisipasi terburuk jika perubahan iklim menimbulkan bencana global. “Mereka me nyiapkan Perang Dingin terbaru di Arktik, mengantisipasi kenaikan temperatur yang bisa berakibat pada kenaikan permukaan laut dan merusak yang di muka Bumi,” tulis Global Research. Apa langkah pencegahan dininya?  Global Research menuliskan, jurnalis investigasi Rick Rozoff menangkap adanya aktivitas militer di Kutub Utara, di bawah bendera operasi gabungan Norwegia-NATO. Mereka telah menyiapkan simulasi jika terjadi serangan teroris global maupun aksi kerusuhan massa.

Serangan teroris bisa jadi tak lagi mengandalkan roket, tetapi sudah memakai kekuatan senjata nuklir. Pemanasan global yang terjadi juga bisa menimbulkan kerusuhan massal yang masif sehingga mengganggu stabilitas negara-bangsa.
Jika ini yang terjadi, negara-negara Barat dan sekutunya telah menyiapkan bungker di Kutub Utara untuk menyelamatkan anak cucu mereka dari pemusnahan etnis. Lalu, bagai mana dengan Indonesia?

Sumber : ROL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s