‘Idul ‘Adha dan Pengorbanan

animals-you-want-to-kiss-140926-goat-1

ilustrasi Kambing. news.discovery.com

Dikisahkan para malaikat menyoroti kekayaan yang dimiliki Nabi Ibrahim. Kita mengenal nabi yang kaya hanya Nabi Sulaiman. Tapi, ternyata Nabi Ibrahim juga kaya. Apalagi, sejak Nabi Ibrahim mendapatkan sumur zamzam. Ternaknya maju. Konon, Nabi Ibrahim memiliki 12 ribuan domba dan unta.

Saat itu, Allah membela Nabi Ibrahim bahwa hati beliau bersih. Iman beliau kuat. Hidupnya untuk Allah. Saat Nabi Ibrahim ditanya, “Punya siapa harta yang engkau miliki?” Dijawab oleh Nabi Ibrahim, “Punya Allah, sedang dititipkan kepadaku. Jika Allah hendak mengambil nya, bahkan anakku sekalipun punya Allah. Jika Allah menghendaki, anakku pun tak apa-apa, kuserahkan.”

Begitu kurang lebih epik yang dikisahkan guru saya di pesantren. Dan, ujian pun datang tidak jauh-jauh. Nabi Ibrahim diuji perkataannya sendiri. Dan, kelak, Allah membuka penglihatan malaikat akan imannya Nabi Ibrahim, bahkan keluarganya, yakni imannya Siti Hajar dan Ismail. Saat isyarat mimpi untuk menyembelih Nabi Ismail datang, tanpa ragu Nabi Ibrahim dan keluarganya membuktikan imannya.

Nabi Ismail yang saat itu berusia tujuh tahun (menurut riwayat lain 13 tahun) berkata kepada ayahnya agar mengikat kaki dan tangannya. Agar ayahnya tidak mendapatinya berontak. Ia meminta ayahnya agar menghadapkan wajahnya ke tanah agar ayahnya tidak melihatnya, lalu jatuh ibanya. Ia meminta jangan melihat dulu anak-anak sebayanya agar tidak jatuh sedihnya.

Dimulailah penyembelihan itu. Tapi, pisau itu tumpul. Kali kedua, Nabi Ismail malah meminta agar ayahnya meng hadapkan wajahnya ke langit. Agar bisa melihat wajah ayahnya dan melak sanakan perintah Allah dengan gembira. Bukan dengan ketakutan.

Kali ini pun pisau itu tumpul. Nabi Ibrahim mencoba menggoreskannya ke batu. Batu itu terbelah. Bertanyalah Nabi Ibrahim, “Wahai pisau, mengapa engkau kupakai untuk menyembelih anakku engkau tidak sanggup? Padahal, untuk membelah batu engkau sanggup?” Batu menjawab, “Aku diperintah Allah agar tidak memotong leher Ismail. Bagaimana mungkin aku bermaksiat? Melawan perintah-Nya?”

Malaikat menyaksikan kesungguhan hati ayah dan anak ini. Bahkan, kesungguhan dan keteguhan hati Siti Hajar. Bagaimana ketika silih berganti setan menggoda agar mereka membatalkan niat ini. Peristiwa ketika setan dilempar batu dijadikan manasik haji. Jumratul uulaa, jumratul wustha, dan jumratul `aqabah.

Akhirnya, Allah pun mencukupi ujian ini. Dan, menggantinya dengan kambing gibas. Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar berhasil melewati ujian pengorban an ini. Dan, tertinggallah kita. Bagaimana pengorbanan kita? Kita memotong waktu kerja untuk shalat saja sering tidak dalam pemotongan (pengor banan) terbaik. Selalu mendahulukan pekerjaan dan menomorduakan shalat.

Sanggupkah kita memotong tidur malam kita? Untuk shalat malam?

Memotong harta kita untuk zakat dan sedekah, dalam bentuknya yang ter baik?

Bukan yang asal-asalan, bukan jangan sampai tidak zakat dan sedekah.

Sanggupkah kita memotong nafsu syahwat kita, ketika datang? Jika sanggup, perbuatan kita pun akan dilihat Allah dan para malaikat-Nya.

Written : Ust. Yusuf Mansur at ROL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s